Senin, 20 April 2026

Refleksi 100 Artikel: Perjalanan Membangun Konsistensi Sejak 2024

Gila, nggak kerasa ya. Kalau aku melihat ke belakang, ke folder draf yang penuh dengan coretan nggak jelas di awal Januari 2024 lalu, rasanya mustahil aku bisa sampai di titik ini. Hari ini, artikel ke-100 akhirnya tayang. Angka 100 mungkin cuma angka buat orang lain, tapi buatku, ini adalah simbol dari sebuah pertempuran panjang melawan rasa malas, writer’s block, dan godaan buat "rebahan aja dulu."

Aku ingat banget hari pertama aku memutuskan buat mulai serius nulis. Waktu itu, awal 2024, semangat lagi tinggi-tingginya gara-gara resolusi tahun baru. Klise, ya? Aku pengen punya wadah buat numpahin semua isi otak yang seringkali berisik sendiri. Tapi, ternyata niat aja nggak cukup. Tantangan terbesarnya bukan nyari ide, tapi gimana caranya supaya laptop ini tetap kebuka meski badan capek pulang kerja atau otak lagi buntu-buntunya.


Awalnya Cuma Pengen Eksis, Lama-lama Jadi Kebutuhan

Jujur aja, pas mulai di tahun 2024, motivasiku mungkin agak sedikit dangkal: pengen kelihatan pinter dan punya portofolio keren. Tapi setelah lewat artikel ke-10, ke-20, sampai ke-50, tujuannya bergeser. Menulis nggak lagi soal "pamer" isi kepala, tapi jadi proses terapi pribadi.

Aku belajar kalau menulis itu kayak otot. Kalau nggak dilatih, dia bakal kaku. Di awal-awal, aku bisa menghabiskan waktu empat jam cuma buat nulis satu paragraf pembuka. Aku terlalu perfeksionis. Aku pengen setiap kata itu puitis, setiap argumen itu nggak terbantahkan. Hasilnya? Aku malah nggak publish-publish.

Sampai akhirnya aku sadar: "Done is better than perfect." Tulisan yang jelek masih bisa diedit, tapi tulisan yang nggak pernah selesai itu cuma bakal jadi beban di pikiran. Sejak saat itu, aku mutusin buat "hajar aja dulu." Dan ternyata, di situlah konsistensi mulai terbentuk.


Musuh Terbesar: Si "Nanti Aja"

Tahun 2025 kemarin adalah ujian paling berat. Ada fase di mana aku ngerasa bosan banget. Rasanya semua topik sudah pernah aku bahas. Aku sempat konsistensinya runtuh dari yang awalnya bisa One Day One Post (ODOP) jadi nulis pas mood aja, bahkan sempat berhenti nulis selama beberapa bulan. Rasanya bersalah, tapi buat mulai lagi itu beratnya minta ampun.

Di momen itu aku belajar satu hal penting tentang konsistensi: Konsistensi itu bukan berarti kamu nggak pernah berhenti, tapi seberapa cepat kamu bisa mulai lagi setelah berhenti. Aku nggak maksa diriku buat langsung nulis artikel panjang yang berat. Aku mulai lagi dengan nulis satu paragraf pendek tentang apa yang aku rasain hari itu. Small wins, kata orang-orang keren di luar sana. Dari satu paragraf, jadi dua, sampai akhirnya ritme itu balik lagi.


Pelajaran dari 100 Artikel

Apa sih yang aku dapet setelah nulis 100 artikel sejak 2024? Banyak banget, dan nggak semuanya soal teknis nulis.

  1. Cara Berpikir Jadi Lebih Rapi: Menulis itu sebenarnya adalah proses merapikan lemari di dalam otak. Yang tadinya berantakan, pelan-pelan jadi teratur karena aku dipaksa buat menyusun kalimat yang bisa dimengerti orang lain.

  2. Disiplin yang Nular: Ternyata, kalau aku bisa disiplin nulis, aku jadi lebih gampang disiplin di hal lain, kayak olahraga atau bangun pagi. Ternyata habit itu saling berhubungan.

  3. Koneksi yang Nggak Terduga: Ada beberapa orang yang tiba-tiba kirim pesan, bilang kalau tulisanku ngebantu mereka. Rasanya aneh tapi senang. Tulisan yang aku buat di kamar sendirian ternyata bisa sampai ke hati orang lain.

  4. Sabar sama Proses: Aku dulu pengen langsung punya ribuan pembaca. Tapi dari sini aku belajar, pertumbuhan organik itu emang lambat, tapi akarnya jauh lebih kuat.


Apa Selanjutnya?

Sampai di artikel ke-100 ini bukan berarti aku sudah jadi "suhu" dalam dunia tulis-menulis. Justru, aku ngerasa ini baru gerbang pembuka. Masih banyak gaya penulisan yang pengen aku coba, banyak topik yang pengen aku ulik lebih dalam, dan tentunya, banyak kegagalan baru yang siap aku hadapi.

Seiring dengan artikel ke-100 ini, DarmaMind juga akan mengalami evolusi. Aku memutuskan untuk lebih fokus membedah dunia Frontline Leadership dan manajemen operasional hospitality—tentunya tetap dengan semangat 'Bekerjalah dan Tetap Nikmati Hidup'. Sebagai pembuka transisi ini, artikel ke-101 nanti akan menjadi tulisan paling jujur yang pernah ku buat: Sebuah surat terbuka untuk mantan atasan yang dulu sangat saya benci. Jangan sampai terlewat!

Buat kamu yang mungkin lagi dapet inspirasi buat mulai sesuatu—entah itu nulis, bikin konten, atau belajar skill baru—pesanku cuma satu: Mulai aja dulu sekarang. Jangan tunggu tahun depan, jangan tunggu alat lengkap. Mulai dengan apa yang ada, mulai dengan kondisi yang nggak sempurna.

Karena nanti, pas kamu sampai di angka ke-100, kamu bakal berterima kasih banget sama dirimu yang sekarang karena sudah berani melangkah di hari pertama.

Terima kasih ya sudah menemani perjalananku dari 2024 sampai titik ini. Mari kita lihat, ada cerita apa lagi di 100 artikel berikutnya! Cheers!