Gila, nggak kerasa ya. Kalau aku melihat ke belakang, ke folder draf yang penuh dengan coretan nggak jelas di awal Januari 2024 lalu, rasanya mustahil aku bisa sampai di titik ini. Hari ini, artikel ke-100 akhirnya tayang. Angka 100 mungkin cuma angka buat orang lain, tapi buatku, ini adalah simbol dari sebuah pertempuran panjang melawan rasa malas, writer’s block, dan godaan buat "rebahan aja dulu".
Aku ingat banget hari pertama aku memutuskan buat mulai serius nulis. Waktu itu, awal 2024, semangat lagi tinggi-tingginya gara-gara resolusi tahun baru. Klise, ya? Aku pengen punya wadah buat numpahin semua isi otak yang seringkali berisik sendiri. Tapi, ternyata niat aja nggak cukup. Tantangan terbesarnya bukan nyari ide, tapi gimana caranya supaya laptop ini tetap kebuka meski badan capek pulang kerja atau otak lagi buntu-buntunya.
Awalnya Cuma Pengen Eksis, Lama-lama Jadi Kebutuhan
Jujur aja, pas mulai di tahun 2024, motivasiku mungkin agak sedikit dangkal: pengen kelihatan pinter dan punya portofolio keren. Tapi setelah lewat artikel ke-10, ke-20, sampai ke-50, tujuannya bergeser. Menulis nggak lagi soal "pamer" isi kepala, tapi jadi proses terapi pribadi.
Aku belajar kalau menulis itu kayak otot. Kalau nggak dilatih, dia bakal kaku. Di awal-awal, aku bisa menghabiskan waktu empat jam cuma buat nulis satu paragraf pembuka. Aku terlalu perfeksionis. Aku pengen setiap kata itu puitis, setiap argumen itu nggak terbantahkan. Hasilnya? Aku malah nggak publish-publish.
Sampai akhirnya aku sadar: "Done is better than perfect." Tulisan yang jelek masih bisa diedit, tapi tulisan yang nggak pernah selesai itu cuma bakal jadi beban di pikiran. Sejak saat itu, aku mutusin buat "hajar aja dulu." Dan ternyata, di situlah konsistensi mulai terbentuk.
Musuh Terbesar: Si "Nanti Aja"
Tahun 2025 kemarin adalah ujian paling berat. Ada fase di mana aku ngerasa bosan banget. Rasanya semua topik sudah pernah aku bahas. Aku sempat konsistensinya runtuh dari yang awalnya bisa One Day One Post (ODOP) jadi nulis pas mood aja, bahkan sempat berhenti nulis selama beberapa bulan. Rasanya bersalah, tapi buat mulai lagi itu beratnya minta ampun.
Di momen itu aku belajar satu hal penting tentang konsistensi: Konsistensi itu bukan berarti kamu nggak pernah berhenti, tapi seberapa cepat kamu bisa mulai lagi setelah berhenti. Aku nggak maksa diriku buat langsung nulis artikel panjang yang berat. Aku mulai lagi dengan nulis satu paragraf pendek tentang apa yang aku rasain hari itu. Small wins, kata orang-orang keren di luar sana. Dari satu paragraf, jadi dua, sampai akhirnya ritme itu balik lagi.
Pelajaran dari 100 Artikel
Apa sih yang aku dapet setelah nulis 100 artikel sejak 2024? Banyak banget, dan nggak semuanya soal teknis nulis:
Cara Berpikir Jadi Lebih Rapi: Menulis itu sebenarnya adalah proses merapikan lemari di dalam otak. Yang tadinya berantakan, pelan-pelan jadi teratur karena aku dipaksa buat menyusun kalimat yang bisa dimengerti orang lain.
Disiplin yang Nular: Ternyata, kalau aku bisa disiplin nulis, aku jadi lebih gampang disiplin di hal lain, kayak olahraga atau bangun pagi. Ternyata habit itu saling berhubungan.
Koneksi yang Nggak Terduga: Ada beberapa orang yang tiba-tiba kirim pesan, bilang kalau tulisanku ngebantu mereka. Rasanya aneh tapi senang.
Sabar sama Proses: Aku dulu pengen langsung punya ribuan pembaca. Tapi dari sini aku belajar, pertumbuhan organik itu emang lambat, tapi akarnya jauh lebih kuat.
Apa Selanjutnya? Evolusi Darmamind
Sampai di artikel ke-100 ini bukan berarti aku sudah jadi "suhu" dalam dunia tulis-menulis. Justru, aku merasa ini baru gerbang pembuka. Selama proses menuju angka 100 ini, aku menyadari satu hal penting: Kualitas jauh lebih berharga daripada sekadar kuantitas.
Jujur saja, saat melihat kembali 100 artikel yang sudah tayang sejak 2024, aku merasa banyak tulisanku yang masih terlalu "kulit", kurang dalam, dan mungkin terlalu melebar ke mana-mana. Aku ingin Darmamind menjadi wadah yang benar-benar memberikan nilai, bukan sekadar memenuhi tumpukan arsip.
Oleh karena itu, seiring dengan artikel ke-100 ini, Darmamind resmi beralih ke tagline baru: "Bukan Sekadar Cerita Kerja".
Tagline ini adalah janjiku bahwa setiap tulisan di sini tidak akan berhenti pada curhat belaka, melainkan akan selalu ada 'daging' berupa sistem, logika, dan strategi yang bisa Kamu bawa pulang ke dunia nyatamu. Sebagai bagian dari transisi ini, Darmamind juga akan mengalami:
Content Pruning: Aku akan merapikan kembali "lemari" blog ini. Artikel-artikel yang kurasa sudah tidak relevan dengan arah baru Darmamind akan aku hapus atau arsipkan, agar Kamu hanya menemukan pembahasan yang benar-benar tajam dan mendalam di sini.
Fokus yang Lebih Tajam: Ke depannya, aku akan lebih fokus membedah dunia Frontline Leadership, Sistem Operasional, dan bagaimana Logika IT bisa menyelamatkan kekacauan di industri hospitality.
Tiga Pilar Utama: Tulisan ke depan akan terkunci pada kategori Catatan Karir, Sistem & Operasional, dan Logika IT di F&B.
Sebagai pembuka transisi ini, artikel ke-101 nanti akan menjadi tulisan paling jujur yang pernah kubuat: Sebuah surat terbuka untuk mantan atasan yang dulu sangat saya benci. Jangan sampai terlewat!
Buat kamu yang mungkin lagi dapet inspirasi buat mulai sesuatu—mulai aja dulu sekarang. Jangan tunggu tahun depan, jangan tunggu alat lengkap. Mulai dengan apa yang ada, mulai dengan kondisi yang nggak sempurna.
Karena nanti, pas kamu sampai di angka ke-100, kamu bakal berterima kasih banget sama dirimu yang sekarang karena sudah berani melangkah di hari pertama. Terima kasih ya sudah menemani perjalananku dari 2024 sampai titik ini. Mari kita lihat, ada cerita apa lagi di 100 artikel berikutnya dengan kualitas yang jauh lebih terjaga! Cheers!