Pernahkah kamu berada di sebuah titik dalam hidup di mana kamu merasa orang yang paling menyebalkan sedunia adalah atasanmu sendiri? Orang yang setiap kali muncul di area kerja, auranya langsung berubah jadi mencekam. Orang yang suaranya paling tidak ingin kamu dengar di handy talky (HT), dan orang yang setiap instruksinya terasa seperti beban yang sengaja ditambah-tambahkan untuk menyiksa harimu.
Kalau kamu pernah atau sedang merasakannya, duduklah sebentar. Ambil napas dalam-dalam. Aku ingin bercerita tentang sebuah perjalanan panjang yang butuh waktu delapan tahun bagiku untuk benar-benar paham. Tulisan ini aku buat di tahun 2026, menatap jauh ke belakang ke masa-masa di mana keringat dan air mata tumpah di lantai sebuah restoran Jepang legendaris di Jogja.
Surat ini untukmu, Captain—atasan langsungku saat aku masih menjadi seorang server di Sushi Tei Jogja.
Hari-Hari di Bawah Bayang-Bayangmu
Masih ingatkah kamu suasana riuh rendah di Sushi Tei? Suara "Irasshaimase!" yang bersahutan, denting piring di atas conveyor belt, dan aroma cuka nasi yang khas. Di tengah hiruk-pikuk itu, kamu berdiri tegak. Sebagai seorang Service Captain, kamu adalah panglima perang di floor. Kamu adalah shift leader, junior supervisor, sekaligus benteng pertama yang menghadapi komplain tamu sebelum sampai ke meja manajer.
Dulu, jujur saja, aku sangat membencimu.
Aku benci bagaimana matamu begitu jeli melihat seragamku yang sedikit kusut. Aku benci caramu menegurku di depan station hanya karena aku lupa menawarkan refill ocha pada meja nomor sekian. Bagiku saat itu, kamu adalah sosok yang haus kekuasaan, orang yang hobi mencari kesalahan kecil di tengah lelahnya aku melayani puluhan tamu yang datang silih berganti.
Aku sering menggerutu di area pantry atau saat kita sedang break di belakang. Bersama teman-teman sesama server, aku melabelimu sebagai "atasan yang nggak punya hati." Aku merasa kamu nggak pernah paham rasanya jadi kaki-tangan yang harus lari ke sana kemari membawa nampan berat, sementara kamu "hanya" berdiri mengawasi dengan muka yang jarang tersenyum.
September 2018: Saat Roda Itu Berputar
Lalu, tibalah tanggal 17 September 2018. Sebuah hari yang mengubah garis hidupku selamanya.
Manajemen memberikan kepercayaan padaku. Aku resmi mendapatkan promosi. Jabatan yang tadinya aku benci, jabatan yang dulu kuanggap sebagai sumber penderitaanku, kini tersemat di bahuku: Service Captain.
Awalnya, aku merasa jemawa. Aku pikir, "Aku akan jadi Captain yang asik, nggak kayak dia dulu." Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi atasan yang selalu tersenyum, yang memaklumi kesalahan staf, dan yang selalu membela anak buah apa pun kondisinya. Tapi ternyata, realita menamparku dengan sangat keras di bulan pertama aku menjabat.
Tiba-tiba, aku bukan lagi orang yang hanya bertanggung jawab pada nampanku sendiri. Sekarang, aku bertanggung jawab atas setiap piring yang keluar dari kitchen, setiap senyum (atau cemberut) dari tamu di puluhan meja, dan setiap kesalahan yang dibuat oleh rekan-rekan server bawahanku.
Menyadari Beratnya Mahkota "Junior Supervisor"
Di tahun 2018 itu, aku baru sadar kenapa dulu kamu begitu rewel soal SOP.
Aku ingat momen pertama kali ada tamu yang marah besar karena pesanan Salmon Sashimi-nya terlambat keluar. Sebagai Captain, aku harus maju paling depan. Aku harus membungkuk dalam-dalam, meminta maaf atas kesalahan yang sebenarnya dibuat oleh bagian kitchen, sementara hatiku sendiri sedang dongkol. Di saat itulah, bayanganmu muncul di kepalaku.
"Oh, jadi ini rasanya pasang badan untuk kesalahan orang lain," gumamku dalam hati.
Aku juga mulai paham kenapa kamu dulu begitu tegas soal kedisiplinan. Di bisnis hospitality, satu detik keterlambatan atau satu helai rambut yang jatuh bisa merusak reputasi yang dibangun bertahun-tahun. Saat aku harus menegur stafku yang asik bercanda padahal ada tamu yang butuh bantuan, aku melihat diriku sendiri yang dulu—yang sering cemberut kalau ditegur.
Ternyata, menjadi "jahat" itu melelahkan, ya? Menjadi orang yang harus selalu mengingatkan standar, menjadi orang yang harus menjaga flow kerja agar tidak berantakan, dan menjadi orang yang paling sering disalahkan oleh manajemen atas jika target tidak tercapai atau ada waste yang membengkak.
Maafkan Aku, Captain
Sekarang, di tahun 2026, setelah aku melewati banyak fase karier dan tantangan hidup yang jauh lebih besar, aku ingin mengucapkan permintaan maaf yang paling tulus kepadamu.
Maaf karena dulu aku terlalu egois untuk melihat beban di pundakmu. Maaf karena aku pernah menganggap ketegasanmu sebagai kebencian personal. Maaf karena aku tidak cukup dewasa untuk menyadari bahwa kamu sedang membentukku, sedang menempaku agar aku siap menghadapi dunia kerja yang sebenarnya jauh lebih kejam daripada sekadar teguran di floor restoran.
Tanpa "tekanan" darimu di masa-masa awal aku jadi server, mungkin aku tidak akan pernah punya mental yang kuat untuk menyandang jabatan Captain di tahun 2018. Tanpa standar tinggi yang kamu terapkan, mungkin aku akan jadi pemimpin yang lembek dan tidak punya arah.
Kamu adalah guru yang tak terlihat. Kamu mengajariku tentang tanggung jawab tanpa banyak bicara teori. Kamu mengajariku bahwa kepemimpinan bukan soal disukai banyak orang, tapi soal memastikan semua orang bergerak ke arah yang benar demi hasil yang terbaik.
Untuk Kamu yang Sedang Berjuang di Bawah Atasan "Galak"
Jika kamu yang membaca tulisan ini adalah seorang staf, server, atau karyawan junior yang saat ini sedang merasa tertekan oleh atasanmu, cobalah untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda.
Jangan terburu-buru melabeli atasanmu toxic. Coba lihat, apakah dia menuntutmu karena dia ingin kamu berkembang? Apakah dia menegurmu karena ada standar kualitas yang harus dijaga? Percayalah, posisi junior supervisor atau shift leader itu adalah posisi yang paling "terjepit". Mereka ditekan dari atas oleh manajemen, dan diprotes dari bawah oleh staf.
Mungkin suatu saat nanti, saat kamu sendiri sudah berada di posisi mereka, kamu baru akan menyadari bahwa orang yang paling keras kepadamu adalah orang yang paling peduli pada masa depan kariermu.
Penutup: Terima Kasih, Sang Mentor
Captain, aku tidak tahu di mana kamu berada sekarang di tahun 2026 ini. Mungkin kamu sudah menjadi manajer di hotel ternama, punya restoran sendiri, atau mungkin sudah berpindah industri. Tapi satu yang pasti, jejak kepemimpinanmu masih tertinggal dalam caraku bekerja hari ini.
Terima kasih karena sudah menjadi Captain yang "jahat" namun jujur. Terima kasih sudah memberiku pelajaran berharga tentang integritas di dunia pelayanan. Surat terbuka ini adalah bentuk syukurku atas semua "omelan" yang dulu kuterima, karena ternyata, itulah yang membuatku menjadi versi terbaik diriku saat ini.
Sampai jumpa di titik sukses selanjutnya. Aku berjanji akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan ini dengan integritas yang sama seperti yang kamu contohkan dulu.
Kalau menurutmu, siapa orang di masa lalumu yang dulu kamu benci tapi sekarang malah ingin kamu ucapkan terima kasih? Tulis di kolom komentar ya, mari kita saling berbagi refleksi.
Ditulis dengan penuh rasa syukur dari meja kerja DarmaMind, 2026.