Pernahkah kamu merasa berada di persimpangan jalan, di mana semua pintu yang kamu ketok seolah-olah terkunci rapat? Tahun 2017 adalah masa di mana saya merasa "dikutuk" oleh dunia teknologi. Sebagai lulusan SMK jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) yang sedang menempuh kuliah Teknik Informatika, identitas saya sangat jelas: saya adalah seorang praktisi IT. Namun, siapa sangka, kebuntuan karier di depan monitor justru menjadi gerbang pembuka menuju dunia yang jauh lebih dinamis di industri Food & Beverage (F&B).
Akhir dari Sebuah Baris Kode
Agustus 2017 menjadi titik balik yang aneh. Saya baru saja merampungkan proyek terakhir saya di WebMediaPress—sebuah proyek ambisius pembuatan media sosial berbasis WordPress bernama PhiliHub untuk klien asal Filipina, Mr. Slavik. Proyek itu memakan waktu enam bulan dan menguras energi saya. Uniknya, karena pemilik perusahaan sudah pindah kota sejak Juni, saya sudah mencicipi gaya kerja Work From Home (WFH) jauh sebelum istilah itu menjadi tren akibat pandemi.
Setelah PhiliHub selesai, masa kerja saya pun berakhir. Awalnya, menganggur terasa seperti surga. Hari pertama bebas dari rutinitas kerja terasa luar biasa bahagia. Hari kedua, kepala saya masih ringan karena tidak perlu pening melakukan debugging program. Namun, kesenangan itu hanya bertahan seminggu. Masuk minggu kedua, rasa bosan mulai menyergap. Di minggu ketiga, kecemasan mulai mengetok pintu. Saya sadar, saya tidak bisa terus diam di rumah.
Labirin Wawancara Kerja dan Realita Skill "Pas-pasan"
Saya mulai menyebar lamaran kerja ke berbagai perusahaan pengembang (developer). Kala itu, modal saya adalah penguasaan PHP, Javascript, serta framework WordPress dan CodeIgniter. Namun, realita di lapangan jauh lebih kejam daripada yang saya bayangkan.
Di perusahaan "Developer A", saya dihadapkan pada Python. Mereka memberi saya tugas (task) dengan tenggat waktu tujuh hari. Saya pulang dengan kepala pening, mencoba membedah bahasa pemrograman baru dalam seminggu. Hasilnya? Program saya jangankan berjalan sesuai indikator, berjalan (running) pun tidak.
Kejadian serupa berulang di "Developer B" yang meminta Node.js, serta "Developer C" dan "Developer D" yang masing-masing menuntut Python dan Java for Android. Semua itu adalah alat yang belum saya kuasai. Terakhir, saya menaruh harapan besar pada "Developer T", sebuah pengembang WordPress Theme Professional. Mengingat latar belakang saya, saya merasa percaya diri. Saya bekerja 13 jam sehari selama tujuh hari untuk memenuhi 10 syarat tema yang mereka minta. Tragisnya, saya hanya sanggup memenuhi enam syarat. Panggilan kerja itu tidak pernah datang.
Titik Terendah dan Keputusan "Banting Stir"
Di titik inilah frustrasi saya memuncak. Kuliah saya sedang cuti, membuat ijazah SMK saya terasa "nanggung" di pasar kerja yang kompetitif. Uang tabungan mulai habis. Ingin mengambil kursus tambahan, namun saldo rekening tidak memungkinkan. Saya merasa stres dan hampir depresi, tetapi saya tidak sanggup menceritakan beban ini kepada orang tua.
Akhirnya, saya mengambil keputusan nekat: cari kerja apa pun yang penting kerja. Saya butuh alasan untuk keluar rumah agar orang rumah tidak khawatir melihat saya menganggur terlalu lama, dan saya butuh pemasukan minimal untuk bensin dan kuota internet.
Diterimalah saya di sebuah brand burger lokal, Burgerax. Bayangkan transisinya: dari duduk di depan layar Laptop ataupun Komputer di dalam ruangan ber-AC nan sejuk, menjadi penjaga booth burger berukuran 1x0,5 meter di emperan toko.
Menemukan "Logic IT" dalam Seporsi Burger
Saya ditempatkan di berbagai lokasi, mulai dari depan toko "7 Cemara" di Kentungan, outlet Galeria Mall, hingga depan "Vast" Selokan Mataram. Tugas saya berotasi antara kasir, juru masak, hingga asisten juru masak.
Awalnya, ini hanya pelarian. Namun, sesuatu yang ajaib terjadi. Saya menemukan bahwa berinteraksi dengan manusia secara langsung ternyata sangat menyenangkan. Bekerja dengan makanan dan minuman memberikan keseruan tersendiri. Bahkan, rasa lelah luar biasa saat menangani pesanan yang memanjang hingga waktu tutup (closing) memberikan kepuasan yang tidak pernah saya dapatkan saat memperbaiki bug di kode pemrograman.
Di sini, insting "IT" saya tetap menyala. Saya mulai melihat operasional restoran bukan hanya sebagai pekerjaan fisik, melainkan sebagai sebuah algoritma sistem yang butuh efisiensi. Cara melayani tamu adalah user interface, dan kecepatan menyajikan makanan adalah performance optimization.
Kuliah Karier di Sushi Tei: Menuju Operational Excellence
Februari 2018 menjadi babak baru saat saya bergabung dengan Sushi Tei Jogja sebagai Server. Di tempat inilah saya menjalani apa yang saya sebut sebagai "kuliah karier F&B" yang sesungguhnya. Saya yang awalnya merasa "terlalu pintar" untuk sekadar mengelap meja, justru jatuh cinta pada kedisiplinan dan SOP yang kaku.
Berbekal ketekunan, karier saya melesat:
September 2018: Resmi menjadi Service Captain hanya dalam tujuh bulan setelah bergabung.
Agustus 2023: Mendapat promosi sebagai Store Supervisor dengan gelar Manager on Duty (MoD).
Desember 2023: Dipercaya memimpin operasional store baru di Sushi Tei Ambarrukmo Plaza.
Kesimpulan: Jangan Takut Mencoba Hal Baru
Kebuntuan karier saya di tahun 2017 bukan sebuah kegagalan, melainkan sebuah "rerouting" dari Tuhan. Jika saya tetap memaksakan diri menjadi programmer yang pas-pasan, mungkin saya tidak akan pernah menemukan potensi kepemimpinan saya di dunia operasional restoran.
Bagi kamu yang saat ini merasa bosan atau buntu dengan pekerjaan sekarang, ingatlah satu hal: Skill teknis bisa dipelajari, tapi keberanian untuk berganti arah adalah aset yang langka. Jangan takut untuk memulai dari nol, bahkan jika itu berarti harus menjaga booth di pinggir jalan. Karena terkadang, untuk melihat jalan yang lebih luas, kita harus berani keluar dari jalur yang kita bangun sendiri.
Dari baris kode ke lantai restoran, saya belajar bahwa Operational Excellence dan Frontline Leadership adalah bentuk lain dari sebuah sistem yang sempurna. Dan saya jauh lebih bahagia di sini.
Bagaimana denganmu? Pernahkah kegagalan membawamu ke tempat yang jauh lebih baik? Mari diskusi di kolom komentar!
